Thursday, December 1, 2011

The Fall.

DAFFA:

Dunia ini dan aku berelasi bagaikan sebuah kinematoscope dan penonton. Motion picture di dalam sebuah kotak yang disaksikan oleh satu penonton sekali putar. Bedanya hanya, aku bergerak bebas. Aku bergerak leluasa memutar sendiri film yang di hadapanku saat ini, dan aku memegang kuasa atasnya. Semua pilihanku menentukan bagaimana jalannya film-film itu ke depan, hingga bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana film itu akan berakhir. Oleh karena itu, selama ini aku tidak pernah membiarkan orang lain mempengaruhiku untuk menetapkan pilihanku. Ini adalah film di mana aku yang menentukan akhir jalan ceritanya. Dan aku akan memastikan bahwa aku bahagia dengan setiap pilihanku.

Ketika ayahku memaksaku mengambil kuliah kedokteran, aku tidak menghiraukannya sama sekali. Well, ketika aku mengharapkan dirinya menjadi ayah yang baik bagiku dan kakak-kakakku apakah ia menghiraukan? Relasi antar manusia yang satu dengan yang lainnya itu seperti sebuah tim dalam permainan basket. Kenali tim, bangun persaudaraan dan rasa saling percaya, dan ketika bermain kau tahu kau bermain menurut strategi yang benar, sesuai kepercayaan, ekspektasi, dan pengharapapan yang telah dibangun atas satu sama lain. Bahkan, setiap langkah, setiap bola yang kuopor itu adalah pilihan, dan jika rekanku tanggap ia akan meneruskan pola bermain yang telah kucanangkan di pikiranku dan bertindak sesuai harapan. Lalu, dia akan mengopor kepada si pemain nomor tujuh, and number seven scored, dan benar, kan, mereka melakukan sesuai yang kuharapkan?

Karena latihan telah membentuk kami menjadi keluarga yang bisa membuat kami membaca pikiran satu dengan yang lainnya. Jarang sekali tindak lanjut pemain yang satu dengan pemain yang lainnya melenceng dari yang diharapkan. Secara tidak langsung sesi-sesi latihan, termasuk tentunya sesi pertandingan, telah mengajarkan kami tentang satu dan yang lainnya, sehingga dengan yakin kukatakan, aku juga membalas kepercayaan mereka terhadapku, dan aku tidak pernah mengecewakan mereka. Tidak hanya dalam permainan basket, aku yakin dalam permainan lain juga begitu. Hanya saja tempo permainan basket yang cepat mengharuskan kami untuk berpikir dan mengambil keputusan ekstra cepat. Kalau tidak, we'll lose the upper hand.

Aku tidak mempercayai ayahku, kenapa aku harus mengopor bolaku padanya dan menaruh harapan padanya untuk menjalankan pola yang kurencanakan untuk hidupku, to score in the game? In my game? Jika suatu hubungan tidak bisa dibangun di atas pondasi saling percaya, maka hubungan itu tidak akan berjalan. Jangan pernah harapkan apa-apa dariku jika kau tidak bisa memberikan hal yang sama padaku untuk diharapkan. Jangan berharap aku memenuhi permintaanmu jika selama ini harapanku padamu kau sia-siakan. Demikian hubungan ayahku dan aku.

Aku ingat hari di mana kedua orangtuaku memberitahu aku dan kedua kakak laki-lakiku keputusan mereka untuk berpisah, setelah enam belas tahun berumah tangga. Saat itu aku berusia sepuluh tahun. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana hancur berkeping-kepingnya perasaanku hari itu karena itu terlalu menyakitkan; mengilustrasikannya lewat kata-kata tidak akan pernah cukup sampai kapanpun. Yang jelas, aku terpukul berat, dan aku tidak berbicara kepada orang tuaku selama berminggu-minggu... Mereka mengkhianati kepercayaanku selama ini. Tapi..., ini bukan cerita tentang orang tuaku. Aku menceritakan semua ini padamu, karena Azka mengetahuinya, dan itulah yang merupakan titik balik hubungan kami yang terjalin selama ini.

I am now vulnerable in her eyes.
Azka dan aku beda jurusan; dia Arsitektur, dan aku Teknik Kimia. Cerita bagaimana kita bisa saling mengenal itu sebenarnya...sangat biasa saja, walaupun aku sudah beberapa kali melihat dirinya di kampus sebelumnya, entah itu di Kantin Teknik, di Lapangan Teknik ketika sedang gencar-gencarnya Teknik Cup, atau sekedar lalu-lalang di koridor, dan di pikiranku, ok, dia termasuk lumayan...untuk ukuran mahasiswi di Teknik.

Sampai suatu hari di mana aku berkenalan dengannya langsung, dan ini semua dimulai berkat teman baikku, Dika; jika bukan karena Dika mundur dari tim debat bahasa Inggris akibat terlalu sibuk dengan kegiatan di MPM dan lain sebagainya kala itu, aku tidak akan pernah maju menggantikannya...dan mengenal Azka.

Waktu itu adalah bulan April di tahun kedua perkuliahan, dan di kampus sedang berlangsung OIM FTUI. Hari berlangsungnya final debat antara Arsitektur melawan Teknik Kimia pun datang, dan Azka merupakan salah satu dari tim oposisi. Mungkin kau sudah bisa menduga apa yang terjadi selanjutnya. Dia tidak berbicara sebaik temannya dalam hal struktur argumen ataupun percaya diri, walaupun bahasa Inggris-nya sangat fluent, tapi dia membantai argumen-argumenku dan mempelintir fakta-fakta yang kulontarkan habis-habisan demi keuntungan timnya, dan aku tidak habis pikir kenapa dia terlihat begitu kesal padaku lewat sorot matanya itu. Ketika debat selesai dan kedua tim bersalaman, dia hanya tidak tersenyum padaku, sedangkan kepada dua temanku yang lain ia tersenyum. I admittedly was amused, tapi seperti biasanya aku tak ambil pusing.

Ketika duduk di kursi penonton menunggu dewan juri selesai berdiskusi, Dika sempat-sempatnya muncul di auditorium dan duduk dengan tim Arsitektur karena pacar barunya itu adalah first speaker tim Arsitektur yang bicara tadi. Aku menghampirinya dan bercanda mengatai dirinya pengkhianat, lalu ia mengenalkanku pada pacar barunya...dan Azka yang duduk di sebelah pacarnya. Aku bisa melihat Azka memalsukan senyumnya ketika diperkenalkan denganku, dan ketika Dika menyuruhku duduk di sebelahnya, Azka menjauhkan kursinya. Aku ingin tertawa. Was it something I said in the debate?

Semenjak itu aku selalu berpikir bahwa Azka tak menyukaiku. Setelah mengenalnya lebih dekat, dia akhirnya memberitahu alasan sebenarnya dia bersikap seperti itu...but we'll get to that later.

Dari perkenalan di final debat, insiden di mana dia memarahiku di sebuah sesi latihan debat untuk OIM UI, hingga waktu itu... waktu di mana sesuatu terjadi yang mengoyak-ngoyak pertahananku sehingga aku tak dapat menahan diri menangis di hadapannya.

Semenjak orangtuaku bercerai, aku memutuskan, akulah yang menetapkan pilihan hidupku ke depan. Aku tahu jika aku yang mengambil pilihan itu atas kehendakku sendiri, aku tidak akan menyesal. Akulah yang berkuasa atas diriku sendiri, dan akulah yang menentukan apapun langkah ke depan yang harus kuambil. Maka ketika aku mengopor bola di dalam permainan basket, aku bukan semata-mata mempercayai rekan setimku, tapi mempercayai naluriku, instingku. Ketika aku berperan dalam filmku sendiri, aku sekaligus sebagai sutradara dan penulis naskah. Dunia ini milikku, layaknya seorang penonton film dan kinematoscope.

Akulah yang mengambil pilihan-pilihan itu. Jika pun aku menyesal, setidaknya aku tahu bahwa akulah yang memilih itu dan saat itu, aku punya alasan-alasan yang bagus. Hubungan yang kubangun dengan orang lain, semuanya dilandaskan atas rasa saling percaya seperti tim permainan basket, dan aku tidak akan pernah menaruh ekspektasi apapun terhadap orang dan berharap mereka akan peduli padaku ataupun pilihan-pilihan yang kuambil, kecuali mereka layak mendapatkan tempat itu. Ketika kau tidak percaya pada orang itu, kau tidak mengopor bola, kau menentukan aksimu sendiri, kau mempercayai pilihanmu sendiri. Seperti yang kukatakan, tiap langkah yang kuambil dalam bermain adalah pilihanku. That's how it is with people.

Aku tahu repetisi tentang permainan basket ini membuatmu jenuh, muak mungkin, tapi aku mengulang-ulang ini karena aku sendiri...berusaha membuat diriku mengerti. Mengerti posisiku dalam permainanku sendiri -dalam hubunganku dengan orang lain. Dalam filmku sendiri -dalam hidupku.

And now, there's Azka.

Sebelum aku bisa merasakan kepercayaan timbal balik itu dengan dirinya, pertahananku sudah terlanjur runtuh, dan aku menangis di hadapannya. Titik balik itu.

"Gimana filmnya?"
"Yang Before-Before? Sucks."
"Lah? Kenapa?"
Because it makes me think of being away from you and it hurts. 
"Sucks aja."
"Ah, payah lu."
"Ya, ya, okay, screenplay bagus, chemistry antara Ethan Hawke dan si cewek juga bagus banget deh..."
"Ya kan? Lebih suka Sunrise or Sunset?" 
"Sunset. You mean the sun, right?" 
"I mean the movie." 
Aku hanya diam, melihat ke dalam matanya. Sebentar lagi gue bakal pisah sama lo, Ka, how can you expect me to be happy with movies like that at this moment?

...A recorded memory. Not long ago.

No comments:

Post a Comment