DAFFA:
Aku adalah pemimpi banyak hal yang tak mungkin. Mimpi-mimpi yang indah untuk diimpikan, tapi menghadang bagai serbuan ribuan shuriken yang siap mengoyak-ngoyak...lalu aku pun terbangun di realita. Namun, jika aku lihai, mungkin aku bisa menangkap shuriken-shuriken itu satu per satu dan menyimpannya untuk koleksi. Shuriken itu senjata ninja super sakti, super, dan kalo aku punya banyak akan kutempelkan sebagai hiasan di dinding kamarku. Intinya, tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri kita untuk menghadapi mimpi-mimpi itu. Jika persiapan diri baik, aku tidak jadi 'terbunuh'...namun bagaimana jika aku tidak mempersiapkan diri sama sekali? Terkoyak-koyaklah ragaku. Aku harap ini masuk akal bagimu.
Tapi aku sangat menginginkan shuriken-shuriken itu. Mungkin untuk selanjutnya aku dapat mempersenjatai diriku dengan itu. Dan, akhirnya, aku mulai membekali ragaku dengan segala ilmu yang dapat membantuku bergerak dan bereaksi super cepat, refleks super fleksibel. Aku belajar menguasai pedang. Lama kelamaan pedang seolah-seolah menjadi perpanjangan dari tangaku, menjadi tanganku. Lalu aku pun menjadi samurai. Sehingga suatu hari kemudian muncullah sekelompok remaja kura-kura ninja menyerang...musuh abadiku. Okay, so, maybe not like the teenage mutant ninja turtles.
Masalahnya adalah, ada satu hal. Hal ini tak pernah menjadi bagian dari mimpiku. Maka ketika ia datang, pedang samuraiku, bahkan shuriken-shuriken itu, tak berdaya. Apa yang harus kulakukan? Salah satu mimpiku mulai terwujud menjadi kenyataan. Ini tahun ketiga kuliah, dan aku akhirnya mendapatkan beasiswa untuk transfer selama satu tahun di sebuah universitas ternama Jepang. Satu tahun... lumayan. Lumayan, dalam arti...aku harus menunggu cukup lama untuk melihatnya lagi.
Yang membuatku bingung adalah aku tak pernah merasakan ini sebelumnya, mengimpikannya saja tidak. Aku mengesampingkan semua pikiran itu untuk nanti, ketika aku sudah kerja, sudah mapan, tidak mau mimpi-mimpiku membunuhku dalam kelengahanku. Tapi, apa mau dikata? Pada awalnya ketika ia datang aku mengutuk diriku, dasar bodoh, dasar lemah, tapi bukan serbuan ribuan shuriken yang datang mengoyak-ngoyak. Tubuhku utuh...ia hanya mengoyak hatiku. Mengoyak hatiku, dan aku membiarkannya.
Aku membiarkannya.
Yang paling meyiksa adalah malam-malam itu, ketika sendiri, dan pikiran-pikiran tentangnya muncul. Perasaan itu menyakitkan sekali, amat sangat menyakitkan, berkali-kali aku harus menahan diri untuk meraih handphone dan meneleponnya. Kenapa perasaan itu membuatmu ingin selalu mendengar suaranya? Aku sering tidak bisa tidur dibuatnya. Ia membuatku bertanya-tanya banyak hal tentang dirinya. Aku tak mengerti, aku benar-benar tak mengerti. Kukira hanya mimpi-mimpiku yang bisa membuatku seperti ini. Masih lumayan, aku masih bisa menangkal serangan-serangannya dengan keahlianku, tapi dirinya? Aku sama sekali lost.
Ah! Dan jauh darinya sama sekali tidak memperbaiki keadaan. Walaupun aku sudah menyatakan perasaanku padanya sebelum berangkat. Walaupun dia tidak berkata apa-apa, dari reaksinya aku tahu dia merasakan hal yang sama. Lalu kenapa harus berpisah sekarang? Kenapa ketika mimpiku sedang baik padaku, prospek dengannya justru juga sangat bagus ke depannya jika aku tetap di sana? Atau ini justru hanya efek keberangkatanku ke Jepang? Mungkin aku harus berterimakasih. Kalau bukan karena mimpiku yang terwujud menjadi kenyataan ini, aku tidak akan pernah terbuka dengannya tentang perasaanku. Tapi seperti yang kukatakan, berada jauh darinya malah semakin membuat perasaanku berantakan, konsentrasiku terpecahkan, stabilitasku terganggu...stabilitas dalam belajar, tentunya, aku tidak akan pernah mengakui diriku galau. Galau itu untuk para anak yang masih hijau. Tidak, aku tidak pernah mengikuti trend galau, aku hanya... berusaha jujur pada perasaanku sendiri.
Kemajuan teknologi memungkinkan kami untuk berkomunikasi setiap hari, tapi aku tak bisa menghindarkan diriku dari pikiran aku tidak bersama dengannya... ketakutan bahwa ketidakberadaanku di sana akan membuatnya... lupa. Untuk pertama kalinya, aku takut dilupakan. Selama ini aku tidak peduli apa yang dipikirkan orang tentangku. Tapi aku sangat peduli apa yang dia pikirkan tentangku. Aku takut ada yang mengambilnya dariku. Di tahun pertama kuliah, aku tidak pernah melihatnya sebagai perempuan yang cantik, tapi entah bagaimana, setelah mengenalnya dengan baik, I saw her in a new light. Sungguh, aku seolah-olah melihatnya sebagai orang yang berbeda, ternyata selama ini, dia itu cantik, aku saja yang tidak melihatnya. Dan aku takut, jika ada yang melihatnya seperti aku melihatnya. Lebih baik aku loncat dari tebing tinggi daripada mengakui hal ini, tapi jika aku loncat, aku akan mati, dan aku takkan pernah bertemu dengannya lagi.
Antara mimpi dan dirinya. Siapa yang menyangka dikoyak-koyak hatimu oleh seorang manusia tak bersenjata bisa lebih menyakitkan? Aku ingin mengikatnya padaku, ingin memastikan tak akan ada yang bisa mengambilnya dariku, tapi demi Tuhan aku bukan manusia posesif, aku ingin tetap memberikannya kebebasan. Long distance relationships rarely work, and they hurt. Aku tidak ingin mengambil resiko itu. But, then again... Maybe I want to take that risk. But what about her?
Jika menembakkan pistol ke kepalaku bisa menyelesaikan semua masalah ini, pasti sudah kulakukan.
Mungkin, yang terbaik adalah membicarakannya dengannya. Apakah dia ingin terikat? Aku harus bertanya, satu pertanyaan itu saja, untuk membuat hatiku merasa secure. Menyatakan perasaan saja tidak cukup, semuanya masih gantung. Mungkin itu kunci dari kerisauan ini. Aku ingin tertawa. Tidak pernah seumur hidupku keyakinanku terhadap diri sendiri bergantung pada sebuah jawaban dari orang lain.
I truly meant it when I told you I loved you, Azka, truly.













