Sakit
Kusimpan di dalam, kurengkuh, kepalaku bersandar padanya. Kutahan air mata, kutahan. Ia adalah bentuk binatang buas yang mengaum, menampakkan gigi taringnya, ingin menerkam, namun kuelus-elus, kutenangkan. Ia tidak boleh menerkam, sebab ia akan kembali terluka, tercabik-cabik. Belum saatnya keluar. Tunggu sampai sudah cukup kuat, cukup besar, dan bijaksana. Baru nanti ia akan kubiarkan keluar. Dan ia akan kembali dengan kepala tegak, dengan kehormatan. Musuh-musuhnya akan malu tertunduk, hidup, namun hidup dengan takut terhadapnya. Tunggu, tunggu saatnya. Ada saatnya.
Cinta
Aku cinta ibuku, aku cinta ayahku. Namun mereka sudah digariskan menjadi milikku, dan aku milik mereka. Namun cinta kepada dirinya berbeda, kepadanya yang bukan milikku, kepadanya yang perasaannya terhadapku tak dapat kubaca. Ada yang mengikat diri ini kepadanya, an invisible rope. Aku selalu merasa ditarik-tarik. Ragaku leluasa bergerak, menari, jungkir-balik jika aku memerintahkannya, namun jiwaku… Jiwaku dibekap. Kadang-kadang sakit rasanya. It’s like having butterflies in your stomach, they say. Tapi rasa sakit ini sampai membuatku ingin ke kamar mandi. Menunggu, namun tak keluar-keluar. Setidaknyaman itulah rasanya mencintaimu. Belum mencintaimu, mungkin, karena kita baru maju selangkah. But I am in danger of it. And I am scared.
Benarkah begitu rasanya? Sejujurnya aku belum pernah mengalaminya. Namun, aku ingin.
Nilai
Aku bukan objek. Aku bukan untuk dilihat. Aku bukan untuk ditonton. Aku tidak semudah itu kaudapatkan untuk kesenanganmu. Aku punya nilai tinggi, karena kau menginginkanku. Itu sudah menjadi fitrahmu. Aku belum disentuh siapapun. Kesucianku terjaga. Aku memasang harga tinggi untuk nilai yang kupunya, yaitu sumpah setiamu di bawah saksi Tuhan. Harga tinggi yang harus kau bayar dengan cintamu. Hanya dengan itu aku menyerahkan diriku padamu.
Paradoks
Paradoks itu adalah mereka yang mewanti-wanti agar anak bangsa bangga pada budayanya, namun hidupnya sendiri menganut cara-cara yang bukan bagian dari budayanya. Tidak ada penghakiman di sini. Hanya menyebut paradoks. Alangkah baiknya menetapkan pilihan yang tidak bertentangan dengan diri sendiri. Dengan kata lain, jujur pada diri sendiri. Mengambil satu contoh: pergerakan ‘progresif’. Menganggap dirinya ‘progresif’, namun tidak memahami anutannya sendiri. Membohongi dirinya sendiri. Ada orang yang benar-benar progresif. Ia memikirkan dampak pergerakannya / perbuatannya berdampak positif terhadap masyarakatnya, bangsanya. Dampak positif yang konkret, yang bergerak, dapat dirasakan. Ada orang yang mengadopsi pemikiran progresif tersebut karena itu berasal dari Barat dan itu pasti selalu ‘progresif’. Ikut-ikutan. Tidak ada penghakiman di sini. Hanya menyebut ikut-ikutan. Whether it’s wrong or right, you decide.
*Sorry if it's awful. Masih dalam tahap belajar. :P (Yang 'Cinta' itu becanda, don't take it too seriously okay :P)
To be continued.