Seperti inikah rasanya? Matamu memiliki jangkauan penglihatan yang luas, batasnya paling-paling bahu di sisi kanan dan kirimu. Aku menjelaskan ini secara rinci karena ingin kau membayangkan betapa luas sudut pandangmu. Coba lihat. Kau memiliki banyak titik yang bisa menjadi fokus lensa matamu. Namun, tahukah apa yang dilakukan sebuah perasaan asing ini padaku? Aku hanya bisa melihat dirinya. Yap, sisa pemandanganku blur. Aku tidak melihat pohon hijau yang daunnya rimbun dan kemayu ditiup angin. Aku tidak melihat langit biru cerah dan awannya yang putih bertebaran bak kapas-kapas bertempelan di kanvas. Semua itu berasal dari memori. Yang aku tahu sekarang, hanya dirinya.
Aku melihat sepasang jendela hatinya yang terpampang di wajahnya. Ia tidak terlalu tampan, tapi ada sesuatu di sana. Ada sesuatu yang membuat mataku tertarik mengintip ke dalam jendela hatinya itu. Iya, matanya. Matanya sungguh berbeda. Matanya berbicara.
Entah bagaimana, hanya aku satu-satunya yang berpikir seperti itu. Yang lain menyebut dirinya, "Biasa-biasa aja. Menang tinggi doang." Namun, mereka tidak merasakan apa yang kurasakan tadi pagi, ketika ia berdiri di sebelahku berhimpit-himpitan di dalam bis kampus hingga bahu kami bersentuhan. Mereka tidak merasakan ketika dirinya berusaha menahanku ketika tubuhku -seperti halnya mahasiswa lain yang berdiri- menjadi sebuah contoh nyata dari soal-soal fisika SMA ketika sang pengemudi mengerem kendaraan secara mendadak. Tapi yang terjadi, tubuhku tidak terhempas ke arah depan, tubuhku tertahan pada tubuhnya yang entah bagaimana bisa tetap berdiri tegap tak bergeming. Tapi aku merasakannya! Aku merasakan force tubuhnya melawan force tubuhku. Dengan kata lain, dia menahanku! Dan pada saat itu, entah bagaimana ceritanya, kedua mata kami bertabrakan dan aku pun tahu. Aku pun tahu. Selama ini, kami tidak hanya berteman. Selama ini, aku hanya butuh sign, sebuah konfirmator untuk menyegel kebenarannya. Sebuah moment. Itulah momennya. Ketika aku berhasil mengintip ke dalam jendela hatinya, dan hatinya berbicara padaku. Dan aku merasakannya. Dan aku berharap, dia juga merasakannya. Tapi, ia pasti merasakannya kan?
Kalau tidak, kenapa waktu aku mengalami maag akut dan muntah-muntah di kamar kos salah seorang temanku dia susah payah datang berkunjung dan menetap hingga aku tertidur pulas malamnya? Padahal itu hari Jum'at dan ia tidak jadi pulang ke rumahnya di Jakarta Selatan, padahal ia selalu pulang di akhir pekan.
Kalau tidak, kenapa dia susah payah membuatkanku sebuah karya collage yang amat sangat bagus dari kumpulan foto polaroidnya dari perjalanannya menjelajahi alam dan wisata Indonesia sejak SMA, hanya karena ia jenuh menyelesaikan laporan praktikum di hari Minggu?
Kalau tidak, kenapa semenjak aku terpaksa bolos dua kali karena ketiduran akibat begadang malam sebelumnya, dia yang selalu bangun pagi meneleponku setiap pukul enam pagi di hari Senin untuk memastikan agar aku bangun dan tidak ketinggalan kelas jam delapan di hari itu?
Kalau tidak, kenapa dia membaca dan menganalisa satu per satu setiap posting dalam blog, tumblr, dan twitter-ku dan membicarakannya denganku keesokan harinya? Seperti yang, baiklah kuakui, diam-diam kulakukan pada profile dan wall facebook-nya, berhubung dia tidak punya blog maupun twitter ataupun tumblr?
Kalau tidak, kenapa dia menonton semua film dan membaca buku-buku kesukaanku berulang-ulang hingga menghapal dialog-dialognya dan memamerkan 'pencapaiannya' padaku?
Kalau tidak, kenapa dia menceritakan semua yang dia rasakan dan pikirkan pada hari itu padaku, tapi tidak pada orang lain?
Kalau tidak, kenapa dia sering menatapku ketika aku tidak menyadarinya? (Baca: pura-pura tidak menyadarinya)
Aku yakin...ia pasti merasakannya. Namun, itu tadi. Sekarang, aku tahu ia merasakannya.
Karena, tadi pagi, ketika turun dari bis dan hendak menyeberangi jalan, dia memegang pergelangan tanganku dan tidak melepasnya hingga kami sampai di seberang jalan. Memang jalanan kampus sedang ramai karena kakak-kakak yang wisuda, tapi tetap saja itu belum apa-apa dibandingkan jalan raya Margonda yang angker dan pengendaranya bikin makan ati. Ia melepaskan pegangannya dengan cepat lalu bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Karena tadi pagi, setelah sepagian menunggu appointment ke dokter gigi bulananku selesai di PKM, setelah bubar makan siang bersama-sama dengan teman-teman sejurusan di Kantin Teknik, setelah ia mengantarku pulang sampai ke kosanku, di depan gerbang, ia memberikanku sebuah kado untuk ulang tahunku besok yang bertepatan dengan keberangkatannya ke Jepang dalam rangka memenuhi panggilan beasiswa yang ia raih di sebuah program studi pertukaran pelajar Indonesia-Jepang. Padahal tidak ada yang tahu hari ulang tahunku.
Karena tadi pagi, ketika aku tidak kuasa menahan haru dan air mata mengalir di pipiku, spontan tangannya mengeluarkan topeng konyol yang sama-sama kita kenal itu dari balik tasnya, dan ia mengenakannya dan menirukan dialog-dialog aneh dari film-film komedi yang relevan dengan situasi saat itu sehingga membuatku tertawa.
Karena tadi pagi, sebelum pulang, kami hanya bertapapan selama waktu yang tak terhitung, dan tanpa diduga siapapun, dia mengatakan tiga kata itu, dan aku tidak mampu lagi menatapnya, dan ia tidak butuh jawaban karena aku menangis lagi, tapi ia tersenyum hangat...dan aku membalas senyumnya.
Dan dia berbalik dan melangkah pergi.
Seperti inikah rasanya? Matamu memiliki jangkauan penglihatan yang luas, batasnya paling-paling bahu di sisi kanan dan kirimu. Aku menjelaskan ini secara rinci karena ingin kau membayangkan betapa luas sudut pandangmu. Coba lihat. Kau memiliki banyak titik yang bisa menjadi fokus lensa matamu. Namun, tahukah apa yang dilakukan sebuah perasaan asing ini padaku? Aku hanya bisa melihat dirinya. Yap, sisa pemandanganku blur.
Aku tidak melihat pohon hijau yang daunnya rimbun dan kemayu ditiup angin... Aku tidak melihat langit biru cerah dan awannya yang putih bertebaran bak kapas-kapas bertempelan di kanvas... Semua itu berasal dari memori.
Yang aku tahu sekarang, hanya dirinya...sosoknya yang menjauh. Aku tidak akan bertanya kenapa momennya datang terlambat... Aku tidak akan bertanya kenapa konfirmatornya muncul di saat seperti ini... Walaupun aku tidak akan bertemu dengannya dalam kurun waktu lima bulan ke depan, tapi aku berharap, aku yakin...aku tahu, aku tetap menjadi satu-satunya yang dia lihat. Walaupun dari kejauhan.
I love you too, Daffa.
I love you too, Daffa.
No comments:
Post a Comment