Dari kejauhan, aku masih bisa melihatnya. Aku bisa melihatnya dengan jelas, in my mind's eye. Hari-hari setelah ia pergi, kedua mataku berhenti merekam seluruh adegan yang berlansung di hadapannya dengan teliti. Dulu, aku adalah pemerhati hal-hal terkecil yang biasanya tak dipedulikan orang, dan biasanya aku selalu mengingatnya. Tapi sekarang, aku seolah-olah lupa untuk merekam semua itu. Bagaimana caranya, jika otakku sibuk memutar memori tentang dia yang sekarang berada amat sangat jauh di sana? Jika mata di dalam pikiranku sibuk melihatnya? Waktu yang tak kulalui dengan berbicara dengannya terasa hambar. Yang paling parah, aku selalu merasakan semacam lubang besar yang menganga di suatu tempat di hatiku sekarang. Beginikah rasanya? Jika ini masih belum cinta namanya, aku tidak tahu apakah aku masih sanggup menerimanya ketika ia datang. Seperti yang diucapkan tokoh yang diperankan Ben Affleck di film Chasing Amy, Holden,
"If this is a crush, I don't think I could take it if the real thing ever happened."Tadi malam, aku terguncang karena sesuatu yang dikatakan Daffa padaku. Sungguh. Benar-benar.
Kenapa dia baru menanyakannya sekarang?
Setelah dia pergi, aku sempat berpikir dia tidak serius mengatakan yang dia katakan padaku sebelumnya. Apalagi, setelah hari ulang tahunku, kami sempat tidak berkomunikasi selama empat hari. Empat hari yang cukup membuatku depresi (bayangkan, cuma gara-gara dirinya). Pikiran yang aneh-aneh merasuki benakku. Apa yang terjadi? Secepat inikah dia menemukan yang baru? Dan hari berikutnya, aku ditiupkan angin kelegaan di atas kelegaan; ia muncul. Lalu kami akhirnya melanjutkan komunikasi lewat segala macam bentuk social networking online yang tak perlu disebutkan lagi.
Sudah tiga minggu semenjak hari ulang tahunku. Dan ia baru menanyakannya sekarang. Sudah berminggu-minggu aku bertanya-tanya, kenapa dia tidak pernah menanyakan itu? Waktu itu, kupikir mendengar dirinya menyatakan perasaannya saja cukup. Lama kelamaan, aku mulai sadar, mungkinkah itu berarti bahwa ia hanya ingin aku tahu perasaannya, tapi ia tak ingin bersamaku karena satu dan lain hal yang ia pendam? Mungkinkah, ada beberapa kekurangan di dalam diriku yang tak bisa ia terima? Aku tidak tahu. Sungguh selama berminggu-minggu aku hanya menghibur diriku sendiri dengan memori sehari sebelum keberangkatannya ke Jepang, dan segala bentuk perhatian yang pernah ia tumpahkan padaku semenjak kami mulai dekat.
Tak sekalipun aku ragu memberikan jawabanku. Like are you kidding? This is what I've wanted for a LONG TIME! Aku telah sangat ingin menjalani hubungan seperti ini dengan seseorang semenjak SMA. Kebanyakan menonton film drama-romance dan membaca novel-novel ber-genre serupa membuatku malah menjadikan itu sebagai impianku, betapa bodohnya. Dan pada saat itu, aku sudah tahu yang kuinginkan bukan hubungan pacaran anak SMA yang labil dan penuh drama, aku menginginkan yang serius, yang tulus, tanpa drama. Namun, tentu saja aku tidak mengekspresikan diriku seperti itu ketika ia menanyakan pertanyaan itu padaku, yang benar saja. Daffa itu orangnya dewasa, setidaknya aku berusaha mengimbangi sedikit kedewasaannya dengan bersikap...sok misterius sedikit. Yang jelas, aku menjawab iya.
Cara menanyakannya saja berbeda. Tidak sekalipun ia menyebutkan kata "pacar" atau "cewek" atau bahkan, "be mine". No, he didn't say it like that. Dia mengatakan,
"Ka, gue cukup mengenal lo untuk tahu kalau lo ngga suka terikat sama apapun. But, unless I'm mistaken, you feel the same way about me. Gue ngga mau ribet lagi dengan pikiran-pikiran yang cuma nambah berat semuanya. Yang gue tahu, gue sayang sama lo dan gue pengen terus ada buat lo. Gue minta maaf karena ini datangnya ngga lebih awal dan sekarang gue udah jauh dari lo, tapi walaupun gue jauh, gue bakal berusaha untuk selalu mastiin gue ada. Gue udah nanya sama diri gue sendiri, dan jawabannya, ya, gue mau terikat, gue sangat yakin. Seperti sepasang benang kusut yang ngga bisa dipisahkan lagi, seperti lautan ngga terpisahkan dari darat. Dan gue tahu, gue ngga bakal tenang sebelum gue menanyakan ini. Walaupun lo ngga bisa lihat gue saat ini, lo harus tahu bahwa permintaan gue ini amat sangat tulus dan ini yang sejujurnya gue rasakan. Azka, lo mau terikat sama gue?"Aku sempat mudik ke sebuah dunia paralel di mana waktu tak berjalan. Aku hanya menatap layar dengan mulut tercengang dan tangan kaku di atas keyboard. Selama beberapa detik, aku hanya terpaku. Sementara aku mematung, aku sedang memberikan ruang pada kebahagiaan membuncah-buncah di dalam hatiku untuk berledakan seperti kembang api di malam tahun baru. Lalu selanjutnya, kebahagiaan itu menyebar dan aku merasakan pacu adrenalin yang sangat kuat lalu aku bangkit dan, seperti hari dia menyatakan perasaannya itu, jingkrak-jingkrak sendirian di kamar.
Aku membaca kalimat-kalimat itu berulang-ulang, dan di dalam kebahagiaanku yang tak terbayangkan, yang kupikirkan sambil senyum-senyum sendiri hanya, "Dasar Humas BEM, tipikal." Omongannya terstruktur, diksinya terpilih, semuanya tertata. But I didn't mind. Mengetahui Daffa, aku sudah yakin bahwa ia telah susah payah memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk mengatakannya, dan yang terpenting, bahwa ia tulus.
Aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, dan sepengetahuanku, Daffa juga tidak pernah. Mungkin, lebih tepatnya, dia tidak sempat.
Selama perkuliahan, aku mengenal Daffa sebagai orang yang sangat berdedikasi terhadap komitmennya menjalani segala sesuatu yang dia pilih, masuk dalam organisasi BEM tidak semata-mata untuk eksis, tapi benar-benar mengincar pengalaman dan menyalurkan aspirasi dan pendapatnya. Buktinya, ia mampu mengimbangi kesibukan organisasi dengan tuntutan tugas dan persaingan yang begitu tinggi di jurusannya. Seolah belum cukup, dia juga atlet basket di Fakultas Teknik... Aku tak habis pikir bagaimana anak itu mengatur waktunya. Setelah dekat, aku akhirnya tahu; Daffa itu orangnya santai, tapi disiplin waktu. Dia jarang sekali menghabiskan waktunya untuk main-main jika ia merasa masih ada tanggung jawab yang belum ia penuhi. Aku benar-benar salut. Masuk akal kan jika waktu untuk pacaran jadinya juga tidak ada?
Lalu, bagaimana bisa dia sempat-sempatnya melihatku...lalu memilihku? Aku yang biasa-biasa saja dan amat sangat pasif ini, dia memilihku. Hingga sekarang, aku selalu berbunga-bunga memikirkan ini. Selama ini, aku terus bermimpi. Kapan saatnya datang di mana aku bisa merasakan hubungan spesial itu dengan orang yang tepat? Aku sempat curiga diriku akan menjadi an old maid. Tapi, Tuhan maha pengasih lagi maha penyayang, aku benar-benar tidak percaya, I'm living it now. Dan terlebih lagi, bersama seorang Daffa. Daffa yang sejak dulu selalu kukagumi dari kejauhan.
Aku menjawab iya.
Aku hanya ingin dicintai seperti Fatimah dicintai Ali, seperti Khadijah dicintai Rasul. Aku ingin tidak terpisahkan, seperti sepasang benang kusut yang tak bisa diurai lagi, seperti lautan tak terpisahkan dari darat.
"Iya, Daff, gue mau."
gilaaaaaa!!!! icha gilaaa!! mau dong jadi Azka. kkkkk
ReplyDeletebehehehe gue juga mau ci wakakakak XD
ReplyDelete